#adslayoutleft { position:fixed; top:10px; margin-left :335px; float:left; z-index:10; } #adslayoutleft .iklankiri { float:right; clear:both; } #adslayoutleftright { float:right; position:fixed; top:10px; margin-left:-800px; z-index:10; } #adslayoutleftright.iklankanan { float:left; clear:both; }

lagu

Sabtu, 17 Agustus 2013

LAPORAN INDIVIDU KULIA KERJA NYATA (KKN)


LAPORAN KEGIATAN INDIVIDU
MENGAJAR DISEKOLAH SD N 04 DAN MAN

1.      Latar Belakang
Dengan adanya kegiatan KKN kami bisa membantu mengajar di sekolah yang ada dilokasi KKN seperti SD 04  dan MAN maka banyak hal-hal yang dapat kami  pahami dan menambah wawasan supaya kami  bisa mampu menguraikan ilmu, bagaimana cara menyampaikan ilmu kami,  yang bisa kami sampaikan terhadap siswa-siswi sekolah yang kami ajarkan selama mengajar di sekolah SD 04 dan MAN di desa tersebut.
            KKN adalah program intrakurikuler dengan tujuan utama untuk memberikan pendidikan kepada mahasiswa. Namun demikian, karena pelaksanaannya mengambil lokasi di masyarakat dan memerlukan keterlibatan masyarakat, maka realisasinya harus sekaligus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Karenanya KKN memiliki arah yang ganda, yaitu: memberikan pendidikan tidak hanya dalam kelas tetapi juga pendidikan pelengkap kepada mahasiswa untuk pengembangan diri dengan melakukan interaksi sosial kemayarakatan di luar kelas, dan membantu masyarakat serta pemerintah melancarkan kegiatan sosial kemasyarakatan dan kegiatan pembangunan di lokasi KKN.

2.      Tujuan
Untuk membantu mengajar dan membagi ilmu atau berbagi pengalaman kepada siswa –siswi yang sasaran kegiatan.

3.      Sasaran
Kelompok sasaran kegiatan sebagai berikut :
1.      SD. N 04 Desa Pelabuhan Talang Leak
  Kelas IV ( empat ) dan Kelas V ( lima )
2.      MAN Desa Pelabuhan Talang Leak
                              Kelas XI IPS 1
4. Tempat  dan Waktu
Tabel Kegiatan dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan :
Tempat
kelas
Waktu
Hari /tanggal
Mata Pelajaran
Topik
diskusi
Keterangan
Sd 04 bingin kuning
IV
(empat)
07.30 s/d
09.00
Senin,  3 september 2012
IPA



Perkenalan siswa

Supaya siswa terlatih berbicara terhadap  teman-teman.
SD N 04 Bingin Kuning




    IV
(empat)
07.30s/d09.00
Selasa, 4 September 2012
Agama islam
Shalat Frdhu
Materi yang diajarkan pada siswa  tentang’SHALAT FRDHU’ Shalat adalah wajib dikerjakan oleh setiap orang yang mengaku dirinnya beriman kepada allah swt.
SD N 04 Bingin Kuning

V
(lima)
07.30s/d09.00
       

           
Rabu, 5 September 2012
MTK
Menghapal perkalian
Pembahasan atau materi yang diajarkan pada kelas V tentang perkalian 6 sampai 10, siswa satu persatu kedepan menghapal perkalian 6 sampai 10.

SD N 04 Bingin Kuning
      I V
(empat)
07.30 s/d 09.00
Kamis, 6 September 2012
Bahasa indonesia
Membaca dan tugas dirumah
Supaya siswa bisa terlatih untuk membaca, dan supaya siswa rajin belajar dirumah.

SD N O4 Bingin Kuning

    V
(lima)
07.00 s/d 09.00
Jum’at, 7 September 2012
Matematika
Mengerjakan soal-soal perkalian
Supaya siswa bisa menghitung perkalian tanpa kalkulator yang telah dihapalkan pertemuan pertama dikelas lima.
MAN Talang Leak
XI IPS 1
(Sebelas IPS  Satu)
08.00 s/d 10.00
Sabtu, 8 September 2012
Ekonomi


Perkenalan siswa
Supaya siswa-siswi bisa terlatih untuk berbicara terhadap teman-teman
MAN Talang Leak
XI IPS 1
(sebelas IPS Satu)
11.00 s/d 00.00
Senin, 10 September 2012
Ekonomi
Tentang Prekonomian di Indonesia
Agar siswa bisa mengetauhui  keadaan perekonomian di  indonesia pada saat  ini.
MAN Talang Leak
-
-
-
-
-
-
08.30 s/d 10.00
Selasa, 11 September
-
-
-
-
-
-
-
Membantu Ruang Tata Usaha
Untuk belajar atau mengetahui apa yang dilakukan pegawai yang bekrja di ruangan tata usaha dan membantu membuat grafik nilai rata-rata ujian nasional IPA dan IPS tahun ajaran 2012.

5. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan Selama kegiatan mengajar di SD N 04 dan MAN sebagai berikut :
v  Sepidol
v  Pulpen
v  Pensil
v  Penghapus
v  Penggaris
6. Metode
            Metode yang digunakan mengajar , mengajar disekolah SD N 04 maupun MAN kami harus mempunyai persiapan, peralatan untuk mengajar  dan bahan-bahan yang untuk diajarkan disekolah.

Memahami Laporan Keuangan (Neraca dan Laba Rugi)

Yang sulit untuk dimengerti adalah bila: orang accounting (yang membuat laporan itu sendiri) yang tidak sungguh-sungguh memahami logika di balik laporan keuangan. Boleh percaya boleh tidak, yang seperti ini sudah pernah saya temukan berkali-kali.
“Mana mungkin. Bukankah orang-orang accounting memang dididik dan ditempa—sejak di bangku kuliah—untuk sungguh-sungguh menguasai akuntansi?”
Mungkin ini kenyataan pahit yang harus ditelan, sekaligus tantangan yang harus dijawab oleh rekan-rekan akuntan pendidik (pengajar akuntansi di kampus-kampus) bahwa, apa yang selama ini diajarkan lebih banyak kulit ketimbang isinya. Sehingga output yang dihasilkan adalah anak-anak akuntansi yang bisa menjurnal dan membuat laporan keuangan tetapi tidak sungguh-sungguh memahami logika atas apa yang mereka buat.
Jurnal dan laporan keuangan yang mereka hasilkan, secara teknis, benar. Tetapi begitu ada masalah mereka mengalami kesulitan untuk menelusuri darimana sumber masalahnya. Al hasil mereka tidak (belum) mampu memberikan masukan yang diharapkan oleh pihak manajemen perusahaan. Lebih parahnya lagi, bahkan untuk sekedar menjelaskan “mengapa bisa demikian?”-pun tidak bisa.
Misalnya:
1. Angka pendapatan tinggi, tetapi mengapa Laporan Laba Rugi menunjukan angka laba yang sangat kecil? (Tolong jangan buru-buru menjawab “karena cost-nya tinggi,” nanti terjebak sendiri.)
2. Angka penjualan rendah, tetapi mengapa Laporan Laba Ruginya menunjukan angka minus alias rugi? Bukankah bila penjualan rendah berarti aktivitas produksi juga rendah sehingga mestinya tidak rugi?
3. Penjualan begitu tinggi, Laporan Laba Rugi menunjukan angka laba yang signifikan, tetapi mengapa begitu banyak vendor (supplier) yang mengeluhkan keterlambatan pembayaran?
4. Ekuitas Pemilik menunjukan peningkatan yang cukup besar, tetapi mengapa tidak ada dividen yang bisa dibagikan kepada pemegang saham?
Keempat pertanyaan di atas sesungguhnya hanya memerlukan logika akuntansi yang sangat sederhana dan lumrah terjadi di hampir semua perusahaan. Kenyataannya, saat ditanya pegawai accounting seringkali gelagapan, akhirnya tidak bisa menjelaskan dengan baik. Setidaknya, minimal mereka bisa menjelaskan “mengapa bisa terjadi demikian?”.
Idealnya, jika mereka memahami logika-logika dibalik sebuah laporan keuangan, mestinya mereka bisa memberi saran dan masukan bagi manajemen mengenai apa yang perlu (atau tak perlu) dilakukan di masa-masa yang akan datang agar masalah yang sama tidak terjadi lagi.
Mengingat kembali masa-masa kuliah dahulu (bisa jadi sekarang sudah jauh lebih baik), materi mata kuliah begitu banyak sementara waktu yang tersedia sangat sempit, “so little time, so many things to do.”
Mata kuliah ‘Akuntansi Dasar’ (Basic Accounting) misalnya. Dengan materi yang begitu banyak, harus bisa diselesaikan hanya dalam 48 kali pertemuan. Setiap pertemuan selalu digunakan untuk mengejar penyelesaian materi yang isinya memang semuanya bersifat teknikal. Samasekali tidak ada ruang untuk menanamkan pemahaman-pemahaman logika akuntansi (mulai dari siklus akuntansi, menjurnal hingga membuat laporan keuangan).
Bahwa kematangan logika bertumbuh seiring dengan pengalaman kerja, BETUL. Bahwa bangku kuliah hanya memberikan bekal dasar, boleh jadi IYA (terutama untuk universitas non-elite, tanpa AC, tanpa dasi, masih pakai kapur tulis, seperti tempat saya berkuliah dahulu).
Di sinilah akhirnya bermuara: TERGANTUNG MASING-MASING INDIVIDU.
Tantangan utamanya—terutama bagi kita yang sudah bekerja: Bagimana caranya mengasah kemampuan logika akuntansi diantara himpitan tugas rutin sehari-hari yang seolah tak ada habisnya?
Itulah semangat dasar yang menjadi latar belakang mengapa ‘Jurnal Akuantansi Keuangan’ (JAK) ada, yaitu: menjadi tempat untuk sharing dan diskusi sambil mengasah skill akuntansi (hard maupun soft skill) di sela-sela rutinitas sehari-hari. Pengelola JAK sadar sepenuhnya bahwa keberadaan JAK pastinya masih jauh dari apa yang diharapkan. Tetapi mudah-mudahan bisa menjadi alternative sekaligus awal yang baik.
Melalui tulisan sederhana ini, saya pribadi ingin mengajak siapa saja yang tertarik untuk mengksplorasi logika-logika di balik sebuah laporan keuangan.
Seperti telah saya sampaikan di awal, produk akhir dari akuntansi adalah laporan keuangan. Dengan membaca laporan keuangan, mereka yang berkepentingan bisa mengetahui kondisi keuangan perusahaan.
Kondisi apa saja yang bisa dilihat dengan membaca laporan keuangan?
Untuk sungguh-sungguh memahami logikanya, anda harus memposisikan diri sebagai sesorang yang sangat berkepentingan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Untuk sementara lupakan status anda saat ini (sebagai pegawai accounting), anggap diri anda adalah pemilik usaha.
Nah, sebagai pemilik usaha, apa yang ingin anda ketahui mengenai kondisi keuangan perusahaan?
Saya coba menebak-nebak (dengan menggunakan kelaziman). Sebagai pengusaha, minimal anda ingin tahu 2 hal berikut ini:

1. Kekayaan Perusahaan

Pertanyaan paling mendasar di wilayah ini adalah: Apakah perusahaan dalam kondisi baik-baik saja? “Baik-baik saja” dalam hal ini maksudnya: Dapat beroperasi secara lancar.
Perusahaan hanya akan bisa lancar beroperasi bila:
(a) Memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari;
(b) Memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya, yaitu: mampu membayar utang kepada vendor/supplier, bank, dan membayar dividen kepada pemegang saham;
(c) Memiliki persediaan (bahan baku untuk diproduksi atau barang jadi untuk di jual);
(d) Memiliki sarana dan fasilitas yang cukup untuk menunjang kelancaran operasional perusahaan.
Dengan kata lain, apakah perusahaan memiliki “kekayaan” yang cukup untuk bisa beroperasi dengan lancar? Jawaban atas pertanyaan itu ada di NERACA—yang sering juga disebut sebagai “Laporan Posisi Keuangan.”
Masih ingat dengan persamaan akuntansi di bawah ini?
Aktiva (asset) = Kewajiban (Liability) + Ekuitas Pemilik (equity)
Itulah isi utama dari sebuh Neraca. Untuk visualisasi, silahkan lihat contoh necara sederhana di bawah ini:
Memahami Logika Neraca
Dari contoh Neraca di atas anda sebagai pemilik PT. JAK bisa melihat posisi keuangan perusahaan dan memperoleh informasi sbb:
Kekayaan kotor perusahaan sama dengan total nilai aktiva (asset)-nya. Dalam contoh ini adalah 137. Jika dibandingkan dengan total kewajiban (utang) yang sebesar 67, masih ada selisih kekayaan sebesar 70. Selisih yang 70 inilah yang disebut dengan “Kekayaan Bersih (Net Asset atau Net Worth)” perusahaan.
Dari sini jelas tergambar bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi semua kewajibannya, dengan asumsi: jika semua asset dijual maka semua utang bisa dilunasi.
Jika kembali ke contoh pertanyaan yang saya sampaikan di awal tulisan: Mestinya perusahaan bisa memenuhi kewajibannya, tetapi mengapa banyak vendor (supplier) yang mengeluhkan keterlambatan pembayaran?
Untuk menjawab pertanyaan spesifik seperti ini, perhatian harus diarahkan ke elemen-elemen neraca yang lebih kecil. Pada sisi aktiva nampak akun “Kas” saldonya hanya 10, sementara akun “Utang Dagang” di sisi sisi Kewajiban nampak sebesar 30. Jelas perusahaan akan mengalami defisit (kekurangan) kas sebesar 20, sehingga banyak vendor yang mengalami penundaan pembayaran.
Mengapa terjadi demikian? Bagaimana cara mengatasinya? Apa yang perlu dilakukan oleh manajemen agar kondisi ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang?
Bentuk Neraca sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menjawab semua kemungkinan pertanyaan yang ada. Dengan catatan, anda harus memahami logikanya. Dari total aktiva (asset) sebesar 137, mengapa akun kas nilainya hanya 10, dimana sisanya? Perhatian di alihkan ke elemen-elemen aktiva (asset) lainnya, yaitu:
  • Piutang = 85
  • Persediaan = 32
  • Aktiva Tetap = 10.
Nah ketahuan sudah, asset menumpuk di akun “Piutang” sebesar 85. Sehingga pertanyaan “mengapa”-nya sudah terjawab. Tinggal berpikir bagaimana cara mengatasinya dan cara mencegahnya di waktu yang akan datang. Untuk mengatasinya manajemen perusahaan perlu memfokuskan perhatian pada proses penagihan piutang—mungkin dengan menawarkan potongan untuk pembayaran lebih awal, kalau perlu panggil debt collector jika mengalami kesulitan penagihan. Untuk mencegah agar tidak terjadi lagi di masa yang akan datang, manajemen perlu mengubah kebijakan kredit—mungkin di buat lebih ketat lagi, lebih selektif terhadap pemberian kredit,  termin pembayaran di perpendek, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, dari Neraca yang sama anda juga bisa melihat bahwa total “Ekuitas Pemilik” meningkat 20. Dari modal awal sebesar 50 kini menjadi 70. Mengapa angkanya sama dengan “Kekayaan Bersih” perusahaan yaitu 70, apakah karena kebetulan?
Tidak. Ini berasal dari persamaan dasar akuntansi: Asset = Kewajiban + Equitas Pemilik. Dengan demikian, maka: Equitas Pemilik = Asset – Kewajiban. Nah jika Kekayaan Bersih = Asset – Kewajiban, Maka otomatis: Kekayaan Bersih = Ekuitas Pemilik.
Jika kembali ke pertanyaan di awal tulisan: “Mengapa ekuitas pemiliki meningkat tetapi tidak ada dividen yang bisa dibagikan kepada pemegang saham”? (dengan kata lain perusahaan tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada pemegang saham)
Jawabannya kembali ke masalah ketersediaan kas. Perusahaan tidak memiliki cukup persediaan Kas. Bagaimana mengatasinya? Sama seperti solusi sebelumnya.
Lebih detail mengenai ketersediaan kas dan pengalokasiannya (apakah sudah seperti yang direncanakan, apakah dipergunakan secara efeisien, dan lain sebagainya) bisa dilihat di “Laporan Arus Kas”.
Laporan Arus Kas, untuk perusahaan yang sudah Go Publik (listing di bursa saham) wajib ada. Sedangkan untuk perusahaan non-publik bisa ada bisa tidak. Mengapa boleh ada boleh tidak? Karena “Laporan Arus Kas” hanya merupakan rincian lebih detail dari akun “Kas” di Neraca. Sehingga pada dasarnya, nilai akhir dari laporan arus kas sama dengan saldo yang ada pada akun “Kas” di Neraca. (Catatan: Saya akan membahas laporan arus kas secara terpisah (di tulisan lain).
Hal yang tak kalah pentingnya untuk diketahui dari sebuah Neraca adalah “Tanggal Neraca” (dibawah tulisan “NERACA PT. JAK”), dalam contoh ini adalah “Per 31 Januari 2012.” Artinya: Kekayaan Kotor sebesar 137 dan Kekayaan Bersih sebesar 70 adalah “Kekayaan Perusahaan” per tanggal 31 Januari 2012. Itu sebabnya mengapa dalam teori akuntansi, Neraca didefinisikan sebagai “Laporan yang menyajikan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu.” Di U.S. sana sering disebut dengan “Snapshot of Financial Position.”

2. Untung atau Rugi

Mengetahui berapa besarnya kekayaan perusahaan, mengetahui apakah perusahaan mampu melunasi utang-utangnya saja, belumlah cukup. Sebagai pengusaha anda juga ingin tahu:
  • Apakah bulan/tahun ini anda untung atau rugi? Jika rugi, mengapa?
  • Apakah operasional perusahaan berjalan dengan efisien atau sebaliknya, boros?
  • Apakah sumber daya perusahaan lebih banyak digunakan untuk aktivitas yang menghasilkan barang/jasa atau untuk hal-hal di luar itu?
Semua jawabanya ada di ‘Laporan Laba Rugi.’ Untuk visualisasi silahkan lihat contoh Laporan Laba Rugi PT. JAK di bawah ini:
Memahami Logika Laporan Laba Rugi
Memperhatikan Laporan Laba Rugi di atas, anda bisa melihat dengan jelas bahwa:
(a) Pendapatan (Revenue) sebesar 187
(b) Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold) sebesar 50
(c) Laba Kotor (Gross Profit) sebesar 137
(d) Biaya-biaya 132
(e) Laba Bersih (Net Profit) sebesar 5
Diantara kelima angka-angka di atas, mana yang paling penting bagi anda sebagai pengusaha? Sudah pasti “Laba Bersih”. Laba bersih menunjukan angka 5. Ini sangat kecil jika dibandingkan dengan nilai Revenue anda yang menunjukan angka 187. Dengan kata lain, profit margin anda hanya 3% (=5/187). Kalau begini ceritanya mah mendingan uangnya di taruh di deposito kan?
Lalu anda tanya orang accounting “Mengapa labanya hanya 5, padahal revenuenya tinggi? Pasti ada yang tidak beres di sini.”
Mungkin dengan cekatan mereka menjawab “Karena biayanya tinggi, boss.”
Ya iyalah. Revenue tinggi, wajar jika biaya juga tinggi (kecuali yang bikin barang dari golongan jin.) Tidak usah orang manajemen, Mbok Jum warung sebelah juga tahu pendapatan dikurangi biaya sama dengan laba atau rugi. Tapi, bukankah bila revenue tinggi, biaya tinggi, mestinya laba masih tetap tinggi?
Pertama, mungkin mereka akan memeriksa kembali angka-angka di laporan, dibandingkan dengan neraca saldo, dibandingkan dengan buku besar, bahkan bukti transaksi dibandingkan dengan catatan transaksi (jurnal) satu-per-satu. Semua perhitungan diperiksa satu per satu. Beberapa hari kemudian mereka kembali dengan jawaban “Semua angka sudah saya periksa, hasilnya benar dan akurat. Semua jurnal sudah benar, tidak ada transaksi yang tertinggal atau diposting dua kali”.
Nah inilah yang saya sebutkan di awal: menguasai teknis akuntansi, mahir menjunal dan membuat laporan keuangan, tetapi tidak (belum) memahami logika akuntansi dengan baik.
Andai sudah memahami logika di balik Laporan Keuangan (Laba Rugi dalam hal ini), mereka tidak perlu sampai memeriksa transaksi satu-per-satu, bahkan mungkin tidak sampai perlu memeriksa saldo buku besar. Cukup hanya dengan melihat Laporan secara sepintas (scanning) dari atas kebawah:
Pertama anda lihat “Pendapatan (revenue)”, lalu anda bandingkan dengan “Harga Pokok Penjualan”, apakah angkanya terlihat logis? Dengan pendapatan sebesar 187, apakah logis jika harga pokok penjualannya 50 sehingga laba kotornya menjadi 137? Permasalahan dilokalisir sampai di sini dahulu.
Untuk mengetahui logis-atau-tidak logis, sebenarnya sudah disediakan alat bantu di bawah “Laba Kotor (Gross Profit)” yang disebut dengan “Gross Profit Margin” yang menunjukan angka 73%. Angka ini tidak akan ada di sana jika tidak ada fungsinya. Apa fungsinya? Untuk mengetahui apakah perbandingan antara pendapatan dengan laba kotor. Pertanyaaan selanjutnya: apakah gross profit margin sebesar 73% itu wajar? Anda bisa memanggil cost accountant anda, merekalah yang paling tahu berapa besarnya gross profit margin untuk produk yang dijual. Separah-parahnya, anda bisa membandingkan angka 73% ini dengan angka gross profit margin bulan lalu—jika perlu, tarik hingga satu tahun ke belakang untuk melihat ‘trend’-nya.
Saya pribadi, untuk penelusuran cepat, memilih menggunakan kelaziman dan benchmark. Dari sana saya tahu bahwa untuk jenis usaha manufaktur gross profit margin ada di kisaran 25 hingga 50%. Untuk jenis perusahaan jasa ada di kisaran 50 hingga 70%. Dan untuk jenis usaha trading (termasuk retail) ada di kisaran 70 hingga 200%.
Nah jika PT. JAK dalam contoh ini adalah perusahaan manufaktur, maka angka gross profit margin sebesar 73% tergolong tinggi. Sehingga akar masalahnya sudah pasti tidak ada di antara wilayah revenue hingga harga pokok penjualan. Lalu dimana? Sudah pasti ada di wilayah biaya-biaya.
Selanjutnya tinggal scanning wilayah akun-akun biaya yang ada di laporan laba rugi. Diantara biaya-biaya tersebut mana yang terlihat tidak wajar? Jika anda punya laporan laba rugi bulan sebelumnya, anda tinggal meletakannya secara bersisian dengan laporan laba rugi Januari 2012 ini, lalu bandingkan. Dalam contoh ini saya tidak buatkan laporan laba rugi bulan sebelumnya sebagai pembanding. Angka yang janggal langsung saja saya beri warna merah, yaitu “Biaya Telepon” sebesar 35. Mengapa ini janggal? Bandingkan dengan “Biaya Gaji?”—apakah logis biaya telepon lebih besar dibandingkan biaya gaji dalam sebuah perusahaan manufaktur? Tidak logis.
“Bukankah tadi sudah diperiksa oleh orang accounting dan mereka mengatakan semua transaksi sudah diperiksa hingga ke nota-nya dan hasilnya akurat?”
Yup. Jika jurnal dan angka di nota benar, berarti yang salah adalah: ORANG YANG BOROS MENGGUNAKAN TELEPHONE. Biaya telephone bengkak begitu besar sudah pasti ada pemakaian yang luar biasa tinggi di luar kebutuhan perusahaan. Selanjutnya tinggal kirim memo ke HRD untuk investigasi lebih lanjut (siapa yang menelpon pacar berjam-jam setiap hari?). Untuk mencegah agar tidak tejadi lagi di masa yang akan datang, mungkin HRD perlu membuat aturan pemakaian telepon. Misalnya: Akses inetrlokal, handphone dan SLI hanya untuk manajer ke atas dengan menggunakan PIN—sehingga penggunaannya bisa diketahui. Sedangkan untuk staff, jika perlu interlokal, SLI atau handphone harus via operator (front office) dengan approval dari manajer.
Logika-logika dasar seperti ini sangat perlu terus diasah, agar penguasaan akuntansi dan keuangan menjadi semakin matang, sehingga bisa menjalankan fungsi dengan baik, bisa memberi masukan yang bermanfaat bagi perusahaan.
Ini baru sebagian kecil dan masih di permukaan. Semakin dalam menyelam, semakin detail, sudah pasti semakin banyak pula ragam logika akuntansi yang harus dipelajari. Tentunya ini bukan sesuatu yang bisa dikuasai secara instant. Butuh waktu, kesabaran dan kesungguhan.
Bagi mereka yang sudah bekerja, dan masih merasa perlu mengasah kemampuan akuntansi melalui pemahaman logika-logikanya, tidak ada cara selain “Learn as you go.” Modal awalnya hanya satu: selalu penasaran/ingin tahu. Selanjutnya tergantung pada seberapa besar keberanian kita dalam mengikuti instinct rasa ingin tahu itu.

Jumat, 14 Juni 2013

Ambitious: CARA MELATIH AGAR PANDAI BERBICARA

Ambitious: CARA MELATIH AGAR PANDAI BERBICARA: Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan ...

Senin, 20 Mei 2013

SIKAP PROPESIONAL KEGURUAN

. Pengertian
Guru sebagai pendidik professional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak.
Pola tingkah laku guru yang berhubungan dengan itu akan dibicarakan sesuai dengan sasarannya, yakni sikap professional keguruan terhadap :
1) Peraturan perundang-undangan
2) Organisasi profesi
3) Teman sejawat
4) Anak didik
5) Tempat kerja
6) Pemimpin, dan
7) Pekerjaan
B. Sasaran Sikap Profesional
1. sikap Terhadap Peraturan Perundang-undangan
pada butir Sembilan Kode Etik Guru Indonesia disebutkan bahwa : “Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintahan dalam bidang pendidikan” (PGRI, 1973). Dengan demikian, setiap guru Indonesia wajib tunduk dan taat kepada segala ketentuan-ketentuan pemerintah.

2. Sikap Terhadap Organisasi Profesi
Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisai PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengapdian . dalam dasar keenam dari kode etik ini dengan gamblang juga dituliskan, bahwa Guru secara pribadi dan bersama-sama, mengembangkan, dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
3. Sikap Terhadap Teman Sejawat
Dalam ayat 7 Kode Etik Guru disebutkan bahwa “Guru memelihara hubungan sepprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan social. Ini berarti bahwa : (1) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara hubungan sesame guru dalam lingkungan kerjanya, dan (2) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara semngat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosia di dalm dan di luar lingkungan kerjanya.
4. Sikap Terhadap Anak Didik
Dalam Kode Etik Guru Indonesia dengan jelas dituliskan bahwa: Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila. Dasar ini mengandung beberapa prinsip yang harus dipahami oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, yakni tujuan pendidikan nasional, prinsip membimbing, dan prinsip pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
5. Sikap Terhadap Tempat Kerja
Untuk menciptakan suasana kerja yang baik ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu : (a) guru sendiri (b hubungan guru dengan orang tua dan masyarakat sekeliling.
6. Sikap Terhadap Pemimpin
Sikap seorang guru yerhadap pemimpin harus positif, dalam pengertian harus bekerja sama dalam menyukseskan program yang sudah disepakati, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
7. Sikap Terhadap Pekerjaan
Profesi guru berhubungan dengan anak didik, yang secara alami mempunyai persamaan dan perbedaan. Tugas melayani orang yang beragam sangat memerlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi, terutama bila hubungan dengan peserta didik yang masih kecil.
C. Pengembangan Sikap Profesional
Sebagai professional, guru harus selalu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara terus menerus. Sasaran penyikapan itu meliputi penyikapan terhadap perundang-rundangan, organisasi profesi, teman sejawat, peserta didik, tempat kerja, pemimpin dan pekerjaan.
Sebagai jabatan yang harus dapat menjawab tatangan perkembangan masyarakat, jabatan guru harus selalu dikembangkan dan dimutakhirkan. Dalam bersikap guru harus selalu mengadakan pembaruan sesuai tugas tuntutan tugasnya.





SIKAP DAN KEPENASIHATAN GURU TERHADAP SISWA
A. Mengkhawatirkan Diri Sendiri
Tidakan guru terhadap siswa multiragam, sangat mungkin sebanyak perilaku siswanya sendiri. Adakalanya guru yang baik melakukan tindakan yang tidak sewajarnya. Fuller dan Brown (1975) menjelaskan beberapa pengertian tentang mengapa guru yang baik terkandang melakukan hal-hal yang mengerikan atau buruk terhadap siswa.
Aspek kedua dari fuller dan brown yang berkaitan dengan sikap agresif guru terhadap siswa. Guru-guru yang telah terlepas dari memfokuskan diri dalam kekhawatiran tetentang diri sendiri dan tugasnya sebagi guru, dan yang disibukan dengan cara mendesain pembelajaran yang sesuai kebutuhan siswa, akan mundur pada saat mereka merasa terancam atau tidak aman.
B. Sikap Mengalah pada Guru
Analisis singkat terhadap sikap guru yang meningkatkan kemungkinan mereka merespon dengan lebih tenang dan rasional. Michael Bernard (1990) menulis secara terinci tentang masalah-masalah pemahaman bagaimana tingkatan stress terjadi dalam situasi tertentu bergantung pada pengaruh sikap guru.
Michael menyimpulkan, karena guru-guru dapat memodifiksi sikap-sikap kontraproduktif tersebut, tingkat acaman dapat dikurangi. Kontra produktif, atau seperti yang disebut Bernard sebagai sikap yang biasa : ekstrem dan jauh dari kenyataan. Bayangan seorang guru yang percaya bahkan semua siswa harus melakukan apa yang diperintahkannya sepanjang waktu dan juga percaya bahwa guru yang berhasil harus mampu mengendalikan sikap siswanya secara keseluruhan.
C. Pembelajran Tetap Berjalan
Salah satu cara untuk mendukung argumentasi berikut tentang hubungan kekhawatiran guru dan sikap yang tidak masuk akal dapat dilihat dari contoh tiga tipe sikap tidak dari siswa yamg telah dikutip di atas sikap-sikap tersebut adalah sikap yang menghambat belajar siswa, sikap yang mempengaruhui kondisi siswa lain, dan sikap melawan guru.
Beberapa hal yang harus dilakukan guru disajikan berikut :
• mengetahui secara pasti yang hendak dilakukan dan memiliki semua sumber yang diperlukan.
• Di awal pelajaran dan topic, informasi kepada siswa tentang tujuan instruksional dan kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapainya.
• Setiap ada kesempatan, tetapkan bentuk sikap siswa yang dapat diterima dan dimengerti agar tidak ada waktu yang terbuang secara berulangkali dalam berunding dengan sisiwa, seperti izin ke kamar kecil, pembagian catering, giliran maju, berbasis, dan lain-lain.
• Berikan siswa mengetahui ketika sebuah kegiatan akan diganti sehingga mereka mempersiapkan diri menyelesaikan apa yang sedang mereka lakukan dan siap secara mental untuk menghadapi apa yang akan mereka lakukan.
• Selalu memperhatikan kebutuhan mayoritas kalas dan sibukkan mereka dalam belajar sebelum berurusan dengan sisiwa yang membutuhkan perhatian istimewa.
• Jangan membiarkan dirinya menjadi mudah tergelincir untuk menjawab pertanyaan yang tidak relavan atau permintaan sesat. Hal ini sangat penting terutama ketika sebuah kegiatan baru sedang dimulai.

D. Siswa Senang Belajar
Rasa ketertarikan siswa dalam belajar dapat dirangsangkan dan dijaga dengan menggunakan cara yang berbeda-beda. Dalam kerangka ini, guru dapat menerapkan cara-cara seperti berikut ini :
• Ubahlah volume, kecepatan, dan nada suara.
• Bersikap antusias pada pelajaran yang sedang diajarkan, misalnya, kapanpun memungkinkan, terangkan mengapa pelajaran ini berguna, penting, dan menarik dan/atau mengasyikkan.
• Beri selingan pada cara mengajar.
• Berjalanlah ke seluruh sisi ruangan pada saat mengajar dan kadang-kadang biarkan siswa bebas bergerak didalam kelas.
• Yakinkan bahwa isi pelajaran menantang, tetapi dapt dikerjakan, dan bilamana memungkinkan, hubungan kegiatan pelajaran dengan kegemaran sisiwa.
Berikut ini pembahsan tentang cara pertanggungjawaban dicerminkan dalam kelas sebagai berikut:
• Saat menanyakan pelajaran, jangan berhenti pada jawaban benar yang pertama, tetpai lanjutkan pada jawaban berikutnya.
• Sering kali memberikan pertanyaan lalu mencoba untuk melakukan kontak mata dengan banyak siswa sebelum memilih satu orang responden.
• Setelen memberikan pertanyaan dan memilih satu siswa untuk menjawab, bersiaplah untuk menunggu beberapa saat, sampai siswa yang dinominasikan mulai menjawab.
• Jika seorang siswa memberikan jawaban yang kurang memandai, perhatikanlah kemampuan untuk menjawab, tunggulah beberapa saat untuk memberinya dorongan atau untuk melanjutkan jawaban.
• Kadang-kadang tanyakan kepada siswa dengan jawaban benar, apa alsanya untuk memberikan jawaban tersebut.
• Pada saat tertentu, perintahkan seluruh siswa untuk menuliskan jawaban atas soal yang diberikan pada selembar kertas. Lalu, berjalanlah dalam kelas sambil membacakan beberapa jawaban mereka.
• Kumpulkan dan / atau periksalah semau pekerjaan rumah siswa.
E. Siswa Terminitor
Beberapa cara guru melaksanakan mitos ini adalah sebagai berikut :
• Kapan pun memungkinkan, di dalam kelas posisikan dirinya sehingga jika dia memandang ke kelas, seluruh atau sebagai besar siswa dapat terlihat oleh mata guru.
• Saat berbicara dengan seseorang siswa, jangan melupakan siswa lainya. Sering kali selingi kotak mata dan amati seluruh siswa (kira-kira setiap lima detik)
• Bilamana seorang siswa tampak berhenti bekerja, katakana banwa perbuatan tersebut terlihat dan tidak dapat diterima. Hali ini tidak perlu dilakukan di depan siswa lain dengan cara melintasi ruangan. Pesan tersebut dapat disampaikan di lain waktu secara pribadi. Hal yang terpenting adalah siswa yang mengetahui bahwa sikap tidak layak dalam bentuk apapun akan segera ditegur oleh guru. Bentuk dan format pesan yang diberikan kepada siswa bergantung pada menejemen kelas pendekatan yang digunakan.

F. Masalah Siswa
Jika masalah pada siswa, fungsi utama guru adalah mendorong siswanya untuk menjelajahi situasi secara verbal. Untuk mencapainya, dia harus membiarkan siswa mengetahui bahwa guru memahami apa yang diceritakannya dan menerimanya sebagaimana adanya.
Guru berkomunikasi dengan siswa secara terus- menerus. Komunikasi kepenasehatan sangat kerap dilakukan. Dalam rangka ini, guru harus mampu bertidak efektif dengan cara seperti berikut ini :
• Siap untuk bekerja. Guru harus meluangkan waktu banyak untuk berkomunikasi dengan siswa dan memahami hubungan emosional dengannya.
• Persiapkan dengan baik sejumlah fakta dan ide yang berhubungan dengan siswa saling berhubungan dan mudah dimengerti.
• Susun pikiran secara runtut dan siapkan argument agar masalah yang duhadapi siswa saling berhubungan dan mudah dimengerti.
• Berbagilah ide pemecahan masalah pada siswa dengan cara menyimak secara aktif, mendomonstrasikan penerimaan atau penolakan dari siswa.
• Izinkan siswa memutuskan apa yang akan mereka lakukan dengan informasi dan apakah mereka akan mengubah ide atau sikapanya.




DAFTAR PUSTAKA
Hermawan S, R. 1979. Etika Keguruan : Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Guru Indonesia. Jakarta: PT. Margi Wahyu.
PGRI. 1973. Buku Kenang-Kenangan PGRI XIII 21 s.d 25 November dan Hut PGRI XXII. Jakarta: PGRI.
Sudarwan Danim (2010), Profesionalisasi dan Etika Profesi Guru, Bandung CV Alfabeta.