. Pengertian
Guru sebagai pendidik professional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak.
Pola tingkah laku guru yang berhubungan dengan itu akan dibicarakan sesuai dengan sasarannya, yakni sikap professional keguruan terhadap :
1) Peraturan perundang-undangan
2) Organisasi profesi
3) Teman sejawat
4) Anak didik
5) Tempat kerja
6) Pemimpin, dan
7) Pekerjaan
B. Sasaran Sikap Profesional
1. sikap Terhadap Peraturan Perundang-undangan
pada butir Sembilan Kode Etik Guru Indonesia disebutkan bahwa : “Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintahan dalam bidang pendidikan” (PGRI, 1973). Dengan demikian, setiap guru Indonesia wajib tunduk dan taat kepada segala ketentuan-ketentuan pemerintah.
2. Sikap Terhadap Organisasi Profesi
Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisai PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengapdian . dalam dasar keenam dari kode etik ini dengan gamblang juga dituliskan, bahwa Guru secara pribadi dan bersama-sama, mengembangkan, dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
3. Sikap Terhadap Teman Sejawat
Dalam ayat 7 Kode Etik Guru disebutkan bahwa “Guru memelihara hubungan sepprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan social. Ini berarti bahwa : (1) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara hubungan sesame guru dalam lingkungan kerjanya, dan (2) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara semngat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosia di dalm dan di luar lingkungan kerjanya.
4. Sikap Terhadap Anak Didik
Dalam Kode Etik Guru Indonesia dengan jelas dituliskan bahwa: Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila. Dasar ini mengandung beberapa prinsip yang harus dipahami oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, yakni tujuan pendidikan nasional, prinsip membimbing, dan prinsip pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
5. Sikap Terhadap Tempat Kerja
Untuk menciptakan suasana kerja yang baik ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu : (a) guru sendiri (b hubungan guru dengan orang tua dan masyarakat sekeliling.
6. Sikap Terhadap Pemimpin
Sikap seorang guru yerhadap pemimpin harus positif, dalam pengertian harus bekerja sama dalam menyukseskan program yang sudah disepakati, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
7. Sikap Terhadap Pekerjaan
Profesi guru berhubungan dengan anak didik, yang secara alami mempunyai persamaan dan perbedaan. Tugas melayani orang yang beragam sangat memerlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi, terutama bila hubungan dengan peserta didik yang masih kecil.
C. Pengembangan Sikap Profesional
Sebagai professional, guru harus selalu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara terus menerus. Sasaran penyikapan itu meliputi penyikapan terhadap perundang-rundangan, organisasi profesi, teman sejawat, peserta didik, tempat kerja, pemimpin dan pekerjaan.
Sebagai jabatan yang harus dapat menjawab tatangan perkembangan masyarakat, jabatan guru harus selalu dikembangkan dan dimutakhirkan. Dalam bersikap guru harus selalu mengadakan pembaruan sesuai tugas tuntutan tugasnya.
SIKAP DAN KEPENASIHATAN GURU TERHADAP SISWA
A. Mengkhawatirkan Diri Sendiri
Tidakan guru terhadap siswa multiragam, sangat mungkin sebanyak perilaku siswanya sendiri. Adakalanya guru yang baik melakukan tindakan yang tidak sewajarnya. Fuller dan Brown (1975) menjelaskan beberapa pengertian tentang mengapa guru yang baik terkandang melakukan hal-hal yang mengerikan atau buruk terhadap siswa.
Aspek kedua dari fuller dan brown yang berkaitan dengan sikap agresif guru terhadap siswa. Guru-guru yang telah terlepas dari memfokuskan diri dalam kekhawatiran tetentang diri sendiri dan tugasnya sebagi guru, dan yang disibukan dengan cara mendesain pembelajaran yang sesuai kebutuhan siswa, akan mundur pada saat mereka merasa terancam atau tidak aman.
B. Sikap Mengalah pada Guru
Analisis singkat terhadap sikap guru yang meningkatkan kemungkinan mereka merespon dengan lebih tenang dan rasional. Michael Bernard (1990) menulis secara terinci tentang masalah-masalah pemahaman bagaimana tingkatan stress terjadi dalam situasi tertentu bergantung pada pengaruh sikap guru.
Michael menyimpulkan, karena guru-guru dapat memodifiksi sikap-sikap kontraproduktif tersebut, tingkat acaman dapat dikurangi. Kontra produktif, atau seperti yang disebut Bernard sebagai sikap yang biasa : ekstrem dan jauh dari kenyataan. Bayangan seorang guru yang percaya bahkan semua siswa harus melakukan apa yang diperintahkannya sepanjang waktu dan juga percaya bahwa guru yang berhasil harus mampu mengendalikan sikap siswanya secara keseluruhan.
C. Pembelajran Tetap Berjalan
Salah satu cara untuk mendukung argumentasi berikut tentang hubungan kekhawatiran guru dan sikap yang tidak masuk akal dapat dilihat dari contoh tiga tipe sikap tidak dari siswa yamg telah dikutip di atas sikap-sikap tersebut adalah sikap yang menghambat belajar siswa, sikap yang mempengaruhui kondisi siswa lain, dan sikap melawan guru.
Beberapa hal yang harus dilakukan guru disajikan berikut :
• mengetahui secara pasti yang hendak dilakukan dan memiliki semua sumber yang diperlukan.
• Di awal pelajaran dan topic, informasi kepada siswa tentang tujuan instruksional dan kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapainya.
• Setiap ada kesempatan, tetapkan bentuk sikap siswa yang dapat diterima dan dimengerti agar tidak ada waktu yang terbuang secara berulangkali dalam berunding dengan sisiwa, seperti izin ke kamar kecil, pembagian catering, giliran maju, berbasis, dan lain-lain.
• Berikan siswa mengetahui ketika sebuah kegiatan akan diganti sehingga mereka mempersiapkan diri menyelesaikan apa yang sedang mereka lakukan dan siap secara mental untuk menghadapi apa yang akan mereka lakukan.
• Selalu memperhatikan kebutuhan mayoritas kalas dan sibukkan mereka dalam belajar sebelum berurusan dengan sisiwa yang membutuhkan perhatian istimewa.
• Jangan membiarkan dirinya menjadi mudah tergelincir untuk menjawab pertanyaan yang tidak relavan atau permintaan sesat. Hal ini sangat penting terutama ketika sebuah kegiatan baru sedang dimulai.
D. Siswa Senang Belajar
Rasa ketertarikan siswa dalam belajar dapat dirangsangkan dan dijaga dengan menggunakan cara yang berbeda-beda. Dalam kerangka ini, guru dapat menerapkan cara-cara seperti berikut ini :
• Ubahlah volume, kecepatan, dan nada suara.
• Bersikap antusias pada pelajaran yang sedang diajarkan, misalnya, kapanpun memungkinkan, terangkan mengapa pelajaran ini berguna, penting, dan menarik dan/atau mengasyikkan.
• Beri selingan pada cara mengajar.
• Berjalanlah ke seluruh sisi ruangan pada saat mengajar dan kadang-kadang biarkan siswa bebas bergerak didalam kelas.
• Yakinkan bahwa isi pelajaran menantang, tetapi dapt dikerjakan, dan bilamana memungkinkan, hubungan kegiatan pelajaran dengan kegemaran sisiwa.
Berikut ini pembahsan tentang cara pertanggungjawaban dicerminkan dalam kelas sebagai berikut:
• Saat menanyakan pelajaran, jangan berhenti pada jawaban benar yang pertama, tetpai lanjutkan pada jawaban berikutnya.
• Sering kali memberikan pertanyaan lalu mencoba untuk melakukan kontak mata dengan banyak siswa sebelum memilih satu orang responden.
• Setelen memberikan pertanyaan dan memilih satu siswa untuk menjawab, bersiaplah untuk menunggu beberapa saat, sampai siswa yang dinominasikan mulai menjawab.
• Jika seorang siswa memberikan jawaban yang kurang memandai, perhatikanlah kemampuan untuk menjawab, tunggulah beberapa saat untuk memberinya dorongan atau untuk melanjutkan jawaban.
• Kadang-kadang tanyakan kepada siswa dengan jawaban benar, apa alsanya untuk memberikan jawaban tersebut.
• Pada saat tertentu, perintahkan seluruh siswa untuk menuliskan jawaban atas soal yang diberikan pada selembar kertas. Lalu, berjalanlah dalam kelas sambil membacakan beberapa jawaban mereka.
• Kumpulkan dan / atau periksalah semau pekerjaan rumah siswa.
E. Siswa Terminitor
Beberapa cara guru melaksanakan mitos ini adalah sebagai berikut :
• Kapan pun memungkinkan, di dalam kelas posisikan dirinya sehingga jika dia memandang ke kelas, seluruh atau sebagai besar siswa dapat terlihat oleh mata guru.
• Saat berbicara dengan seseorang siswa, jangan melupakan siswa lainya. Sering kali selingi kotak mata dan amati seluruh siswa (kira-kira setiap lima detik)
• Bilamana seorang siswa tampak berhenti bekerja, katakana banwa perbuatan tersebut terlihat dan tidak dapat diterima. Hali ini tidak perlu dilakukan di depan siswa lain dengan cara melintasi ruangan. Pesan tersebut dapat disampaikan di lain waktu secara pribadi. Hal yang terpenting adalah siswa yang mengetahui bahwa sikap tidak layak dalam bentuk apapun akan segera ditegur oleh guru. Bentuk dan format pesan yang diberikan kepada siswa bergantung pada menejemen kelas pendekatan yang digunakan.
F. Masalah Siswa
Jika masalah pada siswa, fungsi utama guru adalah mendorong siswanya untuk menjelajahi situasi secara verbal. Untuk mencapainya, dia harus membiarkan siswa mengetahui bahwa guru memahami apa yang diceritakannya dan menerimanya sebagaimana adanya.
Guru berkomunikasi dengan siswa secara terus- menerus. Komunikasi kepenasehatan sangat kerap dilakukan. Dalam rangka ini, guru harus mampu bertidak efektif dengan cara seperti berikut ini :
• Siap untuk bekerja. Guru harus meluangkan waktu banyak untuk berkomunikasi dengan siswa dan memahami hubungan emosional dengannya.
• Persiapkan dengan baik sejumlah fakta dan ide yang berhubungan dengan siswa saling berhubungan dan mudah dimengerti.
• Susun pikiran secara runtut dan siapkan argument agar masalah yang duhadapi siswa saling berhubungan dan mudah dimengerti.
• Berbagilah ide pemecahan masalah pada siswa dengan cara menyimak secara aktif, mendomonstrasikan penerimaan atau penolakan dari siswa.
• Izinkan siswa memutuskan apa yang akan mereka lakukan dengan informasi dan apakah mereka akan mengubah ide atau sikapanya.
DAFTAR PUSTAKA
Hermawan S, R. 1979. Etika Keguruan : Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Guru Indonesia. Jakarta: PT. Margi Wahyu.
PGRI. 1973. Buku Kenang-Kenangan PGRI XIII 21 s.d 25 November dan Hut PGRI XXII. Jakarta: PGRI.
Sudarwan Danim (2010), Profesionalisasi dan Etika Profesi Guru, Bandung CV Alfabeta.
lagu
Senin, 20 Mei 2013
Jumat, 17 Mei 2013
KONSOLIDASI DENGAN METODE EKUITAS DAN METODE BEBAN
2.1 Metode ekuitas dan Metode Beban
Akuntansi metode ekuitas berdasarkan PSAK No. 4 pada dasarnya adalah akuntansi akrual untuk investasi ekuitas yang memungkinkan perusahaan investor menggunakan pengaruh yang signifikan terhadap perusahaan investi. Berdasarkan metode ekuitas, investasi dicatat pada biaya perolehan dan disesuaikan dengan keuntungan, kerugian dan deviden. Perusahaan investor melaporkan bagian miliknya yang menjadi keuntungan perusahaan investi sebagai pendapatan investasi dan bagian bebannya dari kerugian perusahaan investi sebagai kerugian investasi. Rekening investasi ditambah dengan pendapatan investasi dan dikurangi dengan kerugian investasi. Dividen yang diterima dari perusahaan investi adalah disinvestasi berdasarkan metode ekuitas, dan dividen tersebut dicatat sebagai pengurang rekening investasi. Maka pendapatan investasi pada metode ekuitas merefleksikan bagian investor atas laba bersih perusahaan investi, dan rekening investasi merefleksikan bagian investor atas aktiva bersih investi.
Akuntansi metode ekuitas berdasarkan PSAK No. 4 pada dasarnya adalah akuntansi akrual untuk investasi ekuitas yang memungkinkan perusahaan investor menggunakan pengaruh yang signifikan terhadap perusahaan investi. Berdasarkan metode ekuitas, investasi dicatat pada biaya perolehan dan disesuaikan dengan keuntungan, kerugian dan deviden. Perusahaan investor melaporkan bagian miliknya yang menjadi keuntungan perusahaan investi sebagai pendapatan investasi dan bagian bebannya dari kerugian perusahaan investi sebagai kerugian investasi. Rekening investasi ditambah dengan pendapatan investasi dan dikurangi dengan kerugian investasi. Dividen yang diterima dari perusahaan investi adalah disinvestasi berdasarkan metode ekuitas, dan dividen tersebut dicatat sebagai pengurang rekening investasi. Maka pendapatan investasi pada metode ekuitas merefleksikan bagian investor atas laba bersih perusahaan investi, dan rekening investasi merefleksikan bagian investor atas aktiva bersih investi.
Langganan:
Postingan (Atom)